Selasa, 22 Maret 2011

bersitan....

Hehehe…
Entahlah kenapa aku sangat senang mendengar kabar dia putus dengan pacarnya. Kalau dipikir-pikir aku ini siapa, tidak ada hubungannya sama sekali, hanya teman yang memang tergolong dekat dengan keluarganya, karena pernah menjadi teman dekat salah seorang kerabatnya. Sebenarnya kalau boleh memilih aku lebih akan memilih dia, tapi karena ibunya sudah terlanjur merekomendasikan kepada kerabatnya, maka aku yang dari awal memang kurang ”sreg”, mencoba mendewasakan diri dengan juga ingin membuktikan pepatah bahwa cinta akan bisa tumbuh dengan berjalannya waktu, dan ternyata pepatah itu mental dikamusku.
Waktu itu, ketika aku terikat in relationship dengan kerabatnya, Pelajaran yang aku pelajari adalah mendewasakan diri. Dimana ketika aku harus dapat bersikap lebih arif menghadapi kenyataan adanya hubungan terselubung yang tak ternyatakan. (padahal kalau berterus terang aku pasti akan bantu temukan solusinya). Sampai pada akhirnya membuat sebuah keputusan untuk mengakhiri karena setelah kupertimbangkan aku tak punya cukup kekuatan untuk menghadapi dan mensikapinya. Aku yang merasa seolah dijebak karena tak ada pemberitahuan akan adanya moment kala itu, dll.
Hingga pada akhirnya aku harus menerima kenyataan namaku menjadi buruk di keluarga besarnya, padahal bukan kesalahanku. Kala itu aku masih ada masalah yang belum mencapai titik perdamaian dengannya. Tapi ketika orang dewasa berselisih kan tak perlu keluar urat tho ?? dan itu yang aku lakukan, berusaha dengan se ‘adem’ mungkin dalam mensikapi segala persoalan. Dan ketika salah seorang keluarganya juga dia mampir kerumah dalam rangka perjalanan lebaran, keluarga kami menerimanya layaknya tamu, justru mereka merasa tersinggung dan merasa kami tidak menghargai, lantaran tak menyinggung pembicaraan tentang aku & dia. Ya jelas, karena sebenarnya status hubungan kami sudah tak ada kesepakatan lagi. Dan ternyata kerabatnya itu tak diberitahu olehnya, sehingga mengira bahwa hubungan kami baik-baik saja. SUNGGUH TERLALU !!
Sebenarnya aku sangat marah. Tapi kupikir kemarahan tak pernah memberikan solusi. Akhirnya aku ajak bicara dia dari hati ke hati hingga pada akhirnya aku temukan intinya dia tak mau berpisah (baca : putus) denganku. Sementara keputusanku sudah sangat bulat dan dengan perlahan aku beri dia pengertian bahwa aku tak mau bersama lagi apapun alasannya. Dia masih juga tak mau mengerti hingga akhirnya terpaksa aku harus memberitahunya bahwa aku ditelp oleh kakaknya dan sempat mengira aku mempengaruhinya agar tak mau putus. Mendengar itu semua dia sangat terkejut, kenapa anggota keluarganya bersikap demikian padaku, sementara dia yang membuat kesalahan. Akhirnya dia meminta maaf dan menerima keputusan untuk berpisah. Dia juga cerita kalau sebenarnya keluarganya sudah mempersiapkan calon lain tapi dia tak mau, dan aku meyakinkannya untuk berproses dengan calon dari keluarganya tersebut. Dengan berjalannya waktu, syukurlah akhirnya bisa. Dan sekarang mereka sudah dikaruniai seorang bayi yang lucu.
Kembali pada pada dia, entahlah kekukatan apa yang membuatku senang mendengar kabar itu. Mungkin karena dari awal aku melihat ada sesuatu yang kurang pada karakter pacarnya kala itu. Dan ketika dia meminta pendapatku dan aku mengatakan ”not recommended”, dan dia meneruskan hubungannya, dia menjadi seolah menjauh. Aku tak mempersoalkan itu, dan aku tetap berusaha bersikap sewajar mungkin. Karena aku berpikir, tak ada kemungkinan sedikitpun bagi kami untuk menjadi dekat, karena bagaimanapun juga image negative dari keluarga besarnya sudah melekat padaku, meski itu sebenarnya bukan kesalahanku. Dan menurutku akupun tak perlu berusaha membersihkan nama baikku. Toh kebenaran juga tak kan tertukar. Jadi serahkembalikan pada Allah, biarkan tangan2NYA yang menuntun pada jawaban dan menyelesaikannya….∆

Tidak ada komentar:

Posting Komentar